Setiap tanggal 15 bulan kedua atau bulan Karo dalam penanggalan kalender
Saka, Suku Tengger Bromo merayakan hari raya Karo. Suku Tengger merupakan masyarakat yang hidup lereng Gunung Bromo dan Semeru.
Ada empat kabupaten yang menjadi tempat tinggal masyarakat Suku Tengger, yaitu
Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Akan tetapi, jumlah terbanyak Suku Tengger berada diwilayah Kabupaten Probolinggo.
Upacara Karo atau biasa disebut upacara adat Karo ialah upacara ritual yang merupakan lebaran bagi masyarakat Suku Tengger. Upacara ini bertujuan kembali pada kesucian, yang disebut satya yoga. Anggapan tersebut muncul bahwa pada zaman satya yoga masyarakat bersifat suci, berpegang teguh pada kebenaran, kesederhanaan, serta kejujuran.
Pada upacara Karo, masyarakat Tengger memperingati Sang Hyang Widhi Wasa
(Tuhan) yang telah menciptakan dua jenis makhluk manusia (Karo), yaitu
laki-laki dan perempuan sebagai leluhurnya. Sehingga upacara Karo dikaitkan
dengan leluhur masyarakat Tengger, yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger.
Upacara adat Karo dirayakan setahun sekali pada Purnama Sasih Karo, berdasarkan perhitungan tahun Saka Indonesia, dan menjadi kegiatan yang sangat bermakna bagi masyarakat desa.
Upacara adat Karo dirayakan setahun sekali pada Purnama Sasih Karo, berdasarkan perhitungan tahun Saka Indonesia, dan menjadi kegiatan yang sangat bermakna bagi masyarakat desa.
Tahapan Uphacara Karo sebagai berikut :
- Upacara adat Karo berlangsung selama 15 hari dengan berbagai rangkaian acara. Berikut tahapan upacara adat Karo Suku Tengger yang perlu diketahui.
- Tari Sodoran (pembuka), tarian ini diawali dengan penari Sodor dari para sesepuh yang biasa disebut Mblara'i (mengawali) dilakukan pukul 04.00 pagi.
- Kirab Manten Sodor (Penari Sodor).
- Sebelum tari Sodor, dilakukan terlebih dahulu Mekakat, kemudian pembacaan Kerti Joyo (pembacaan mantra Karo dan memberi sesajen)
- Tari Sodor dilakukan Manten Sodor (putra-putri) berjumlah 12 orang secara bergiliran, yang melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu. Tempat pelaksanaannya untuk Tengger Sabrang Kulon ditempatkan di balai desa.
Selesai melakukan prosesi
dilanjutkan dengan acara berikut :
- Santi (melakukan kirim doa kepada para Sidi Derma, selametan banyu dan gaga/tegal/ladang).
- Dederek (saling mengunjungi ke rumah-rumah).
- Nyadran/nelasih (nyekar ke makam).
- Bawahan (penutupan dilakukan masing-masing desa).
Khusus kunjungan dukun adat, warga menyiapkan sesajen dan sedekah Karo di rumah
masing-masing. Nantinya sesajen itu akan dibacakan mantra dan doa oleh dukun
adat agar keluarga satu rumah tersebut selamat dari segala macam mara bahaya,
serta diampuni dosa selama satu tahun oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
Upacara adat Karo menjadi sarana komunikasi dan interaksi sosial bagi
masyarakat tengger. Upacara Karo diikuti
seluruh masyarakat Tengger yang menghayati titi luri, yakni mengikuti jejak
leluhur dalam meneruskan agama, kepercayaan, dan adat istiadat secara turun
temurun.
Upacara Karo dilakukan masyarakat Tengger tanpa membedakan agama dan wilayah tertentu. Semua umat agama yang ada turut terlibat dan melebur dalam perayaan Karo, mulai dari persiapan hingga prosesi.
Upacara Karo dilakukan masyarakat Tengger tanpa membedakan agama dan wilayah tertentu. Semua umat agama yang ada turut terlibat dan melebur dalam perayaan Karo, mulai dari persiapan hingga prosesi.
Adat istiadat dan budaya Tengger terbukti menjadi tali pengikat bagi
kebersediaan warga untuk senantiasa saling memahami, menghargai, dan menerima keberagaman yang ada. Dengan ketulusan dan kesederhanaan nya, masyarakat Tengger
menjalankan ibadah agama dan ritual adat mereka dengan leluasa. Agama dan adat
Tengger dengan segala simbolnya hadir sebagai harmoni sosial dan persaudaraan
universal. -D.S. Rahardi


