Translate

27 Oktober 2023

Kemegahan Candi Jabung Probolinggo Sebagai Tempat Pendharmaan Bhre Gundal

 

Candi Jabung Paiton Probolinggo
Candi Jabung Paiton Probolinggo -D.S.Rahardi

Candi Jabung adalah bangunan yang dibuat masa Kerajaan Majapahit, lokasinya berada di desa Jabung, Kecamatan Paiton Kab. Probolinggo. Candi ini merupakan bangunan dengan gaya bentuk mirip cungkup lonceng, atau mirip stupa, dibuat dari bahan dasar tumpukan bata merah yang tersusun indah dengan pinggiran dinding berelief kisah perjalanan Prabu Hayamwuruk semasa berada di Bhumi Banger (Probolinggo kini). Bahan bangunan candi yang berasal dari bata merah merupakan ciri khas dari Era Majapahit.

Dijelaskan pada perjalanan Prabu Hayamwuruk dari arah Paiton hingga Pajarakan dalam sebuah karya Kitab Negara Kertagama hasil karya Mpu Prapanca pada Pupuh 31, sebagai berikut.

  1. Ri sahnira sakeɳ kta meweh ikaɳ swabhrtyaniriɳ, banu hnin ikanaɳ hawan " wki dataɳ ri  sampora sok, muwah ri dalman " tke wawaru riɳ binor hop " glisan, gban krp i glam " tke kalayu rajakaryyeniwo. 
  2. Ikaɳ kalayu darmma sima sugatapratistapagoh, mahottama sujanma wandu haji saɳ dinarmmeɳ danu, nimittan i pakaryya karyya haji darmmakaryyadika, prasidda mamgat sigika wkas i sudarmmenulah. 
  3. Ikaɳ widi widana sakrama tlas " gnep sankepan, makadyan upabhoga bhojana halp nikanopama, amatyagana samyasanghya çagiri dataɳ riɳ sabha, mrdanga padahatri megeliglanmahinan dina.
  4. Narendra ri huwusni karyyanira sestani twas ginoɳ, asiɳ sakapark / (105a) pradeça pinaran danondok dateɳ, piraɳ wni lawasnirerika pararttha mangoɳ sukha, surupa bini hajy ulihnira wiçesa kanyanulus. 
  5. Ri sahnira sakeɳ kalayw i kutugan kahenwalaris, ri khebwan agen aglis engal amgil/ ri kambaɳ rawl, sudarmma sugatapratista racananya çobhah halp,anugraha nareçwara san apatih pu naladika
  6.  Haturhatur i saɳ patih lwu halpnikanindita, byatita panadah narendra rikanaɳ  prabhatocapen, umankat ahawan/ ri halses i ba raɳ ri patunjunan, anunten i patentenan tarub i lesan asrwalaris 

Artinya :

  1. Telah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah, melintasi Banyu bening,  perjalanan sampai Sampora, terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan, Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar. 
  2.  Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan, tempat candi makam sanak kadang Baginda raja, Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat, "memegat sigi" nama upacara  penyekaran itu. 
  3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan, mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama, cara patih mengarak Sri Baginda menuju paseban, Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak. 
  4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan, mengunjungi desa-desa di sekitarnya genap lengkap, Beberapa malam lamanya berlomba dalam kesukaan, memeluk wanita (antik dan meriba gadis remaja. 
  5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan, melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam, Tanah anugerah Sri Nata kepada tumenggung Nala, Candinya Buddha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
  6. Perjamuan Tumenggung  Empu Nala jauh dari cela, tidak diuraikan betapa Lahap Baginda  Nata bersantap, Paginya berangkat lagi ke Halses, B'rurang, Patunjungan, Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub  dan  Lesan
Candi Jabung Paiton Probolinggo
Candi Jabung Paiton Probolinggo - D.S.Rahardi

Adapun beberapa tempat yang disinggung dalam Negara Kertagama hingga kini masih dipakai seperti Sampora = Tampora, Binor, Kebon Agung, Kambangrawi = Karangbong pajarakan.
Dalam perjalanan menjelaskan bahwasanya Baginda Raja Hayamwuruk melaksanakan penyekaran dan upacara Mmegat Sigi kepada salahsatu saudaranya yang sudah meninggal di Kebon Agung.

Candi Jabung Paiton Probolinggo
Candi Jabung Probolinggo - D.S.Rahardi

Pembuat serta pengukir relief candi tersebut tak lain adalah para pengikut Sang Prabu Hayamwuruk dan masyarakat setempat yang semasa itu mengikuti semua arahan dari Sang Prabu saat berada di Bhumi Banger sekitar abad ke 13, pembuatan candi Jabung sebagai tempat pendharmaan bermaksud untuk menghormati abu jenasah Bhre Gundal yang tak lain masih memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan gelar "Bhre" yang mana dalam bahasa Sanskerta berarati "Tuan/Baginda", istilah nama Bhre sering pula ditemui di kitab Pararaton dan nama tersebut biasa digunakan oleh kaum bangsawan kerajaan.

Adapun relief yang sangat terlihat jelas pada sisi bagian atas pintu dengan berwujud Bhatara Kala, Bhatara Kala sering erat kaitannya sebagai penjaga tempat yang dianggap suci dan sakral.-D.S.Rahardi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar