Translate

26 Oktober 2023

Menelisik Situs Kentrungan dan Arca Kepala Naga di Pajarakan Probolinggo

Situs Batu Kentrungan dan Arca Kepala Naga, Kab. Probolinggo
Batu Kentrungan Pajarakan Probolinggo -D.S.Rahardi

Salah satu hasil peninggalan masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke- 13 yang ada hingga kini yakni situs Batu Kentrungan dan Batu Arca Naga yang berada di desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. 

Banyak pendapat yang mengatakan bahwasanya Pajarakan merupakan wilayah yang sudah ada sejak Jaman Majapahit, hal ini sempat dijelaskan pada Kisah Perjalanan Prabu Hayamwuruk saat mengelilingi daerah Timur yang melewati Banger (Probolinggo saat ini). disebutkan pada pupuh 32 baris ke 1.

- Cighran " datn i pajarakan pataɳ dina lawas narapatin amgil, nkaneɳ harahara kidul iɳ  sudarmma sugatasana makuwukuwu, mantri wiku haji karuhun san aryya sujanottama parn umark, kapwanaturaken upabhogha bhojana wineh dana padakasukhan

 yang artinya :

- Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam empat hari. Di tanah lapang sebelah candi Budha beliau memasang tenda. Dipimpin Arya Sujanottama para menteri dan pendeta datang menghadap. Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.

Diketahui bahan dasar pembuatan batu tersebut dibuat dari andesit pegunungan yang diukir sehingga tampak hidup dan mirip menyerupai kepala ular naga. Naga dalam kepercayaan dan mitologi masa kerajaan Majapahit dianggap sebagai hewan pelindung sehingga arca naga sendiri selalu ditempatkan pada lokasi yang suci atau tempat yang dianggap sakral, seperti halnya tempat pendharmaan ataupun peribadatan.

Situs Batu Kentrungan dan Arca Kepala Naga, Kab. Probolinggo
Arca Kepala Naga Pajarakan Probolinggo -D.S.Rahardi

Menurut beberapa pendapat warga sekitar, diduga situs batu Kentrungan dan batu Naga dulunya merupakan tempat peribadatan yang dikenal sebagai punden pada masa Hinduisme. Adapun beberapa batuan pada situs yang sudah hilang entah kemana, tinggal reruntuhannya saja. Beberapa ahli menjelaskan, bahwasanya reruntuhan situs kentrungan dan kepala naga berserakan dikarenakan adanya peperangan antara pihak kerajaan Majapahit dengan Nambi dari kerajaan Lamajang (Lumajang), yang dikenal dengan pemberontakan Nambi. Saat itu wilayah Pajarakan masih dalam wilayah kekuasaan Nambi. Bukti ini juga tertuang pada kitab Negara Kertagama pada pupuh 48 baris 1-2.

- Ndah kawkas darendra jayanagara prabhu ri tiktawilwanagari, mwaɳ nrpaputrikantenira maibu saɳ prawara rajapatny anupama, saɳ rwa padotameɳ hayu banun" rwaniɳ ratin anoraken" surawadu, natha ri jiwanagrajanira nrpe daha sira pamunsu siniwi. 

- Riɳ çakakalla mukti guna paksa rupa madumasa tapwa caritan, çri jayanagara prabhun umankat anhilanaken musuh ri lamajaɳ, bhrasta pu namti sak sakulagotra ri pajarakan" kutanyakapugut, wrinwrin ars tikaɳ jagat i kaprawiranira saɳ narendra siniwi

artinya :

- Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta. Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik. Bagai Dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari. Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani di Daha.

- Tersebut pada tahun saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan madu baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh. Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan. Giris miris segenap jagat melihat keperwiraan Sri Baginda.

Melihat kondisi saat ini, situs batu kentrungan dan batu arca naga kurang terurus. Apalagi lokasi yang memang berdekatan dengan area persawahan. Dengan adanya masyarakat sekitar yang sadar akan pentingnya peninggalan sejarah, membantu secara swadaya membersihkan area situs tersebut.-D.S.Rahardi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar