![]() |
| Petilasan Syaik Maulana Ishaq - D.S.Rahardi |
Perjalanan panjang penyebaran agama Islam di Jawa Timur oleh para wali dibuktikan dari beberapa penemuan, baik berupa benda maupun kompleks bangunan. Salah satu peninggalan dalam bentuk bangunan yakni Petilasan Syaikh Maulana Ishaq yang berada di Desa Kregenan, Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo.
Melihat bahan dasar bangunan yang masih asli terbuat dari tumpukan bata merah yang menandakan salahsatu ciri khas bangunan era Majapahit, Petilasan Syaikh Maulana Ishaq ini diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke 14 Masehi. Diperkuat lagi dengan adanya sumur dengan lingkar diameter kecil berdinding bata, yang sering disebut dengan Sumur Windu (Sumur era Majapahit) yang kini sudah ditutup dengan keramik. Hal ini membuktikan bahwasanya islamisasi di Probolinggo sudah terjadi pada abad ke-14 Masehi.
![]() |
| Petilasan Syaik Maulana Ishaq - D.S.Rahardi |
Bangunan Petilasan Syaikh Maulana Ishaq yang berada di Desa Kregenan Kecamatan Pajarakan Kabupaten Peobolinggo dibuat atas dasar mempermudah proses berdakwah serta penyebaran agama atau proses islamisasi. Yang mana, saat itu masyarakat mayoritas masih memeluk agama Hindu.
Melihat tata letak model bangunan, beberapa para ahli sejarah menyimpulkan bahwa bangunan tersebut dahulunya digunakan oleh Syaikh Maulana Ishaq untuk berdakwah, belajar ngaji bagi santri, bahkan untuk sholat berjamaah. Bangunan tersebut dibangun langsung oleh Syaikh Maulana Ishaq beserta santri-santrinya. Bisa dimungkinkan, inilah bangunan Musholah atau bisa dikatakan Masjid pertamakali di Kabupaten Probolinggo.
Makam di area dalam Petilasan Syaikh Maulana Ishaq bisa dimungkinkan yakni salah satu santri dari Syaikh Maulana Ishaq yang dahulunya ditugasi untuk melanjutkan berdakwah menyebarkan Agama Islam diwilayah Kregenan, dengan bertempat pada bangunan yang sudah dibangun oleh Syaikh Maulana Ishaq sebelumnya.
![]() |
| Petilasan Syaik Maulana Ishaq - D.S.Rahardi |
Diceritakan bahwa Syaikh Maulana Ishaq menyebarkan Agama Islam hingga sampai Kerajaan Blambangan (Banyuwangi kini), penyebaran agama tersebut atas dasar permintaan dari Sunan Ampel. Saat itu masyarakat di Kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Prabu Menak Sembayu terkena wabah pagebluk (wabah penyakit yang mematikan), sehingga putri dari Prabu Menak Sembayu yang bernama Dewi Sekardadu juga ikut terserang wabah tersebut.
Atas dasar Sayembara penyembuhan penyakit yang digelar Prabu Menak Sembayu, Dewi Sekardadu berhasil disembuhkan oleh Syaik Maulana Ishaq. Dewi Sekardadu masuk Agama Islam dan menikah dengan Syaikh Maulana Ishaq. Dari pernikahan tersebut lahirlah Joko Samudro (Sunan Giri). -D.S.Rahardi
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar