![]() |
| Gunung Bromo Probolinggo - D.S Rahardi |
Gunung Bromo atau dalam prasasti sering disebut Gunung Brahma merupakan salah satu gunung di kawasan Kabupaten Probolinggo yang memiliki panorama alam sangat memukau, tak heran banyak wisatawan baik lokal maupun asing berbondong-bondong berdatangan demi menikmati kecantikan alam diwilayah lereng Gunung Bromo. Dengan banyaknya wisatawan yang berdatangan menjadikan Gunung Bromo masuk disalah satu wisata alam terbaik di Jawa Timur.
![]() |
| Pertanian Suku Tengger - D.S Rahardi |
Wilayah lereng Gunung Bromo didiami masyarakat yang mayoritas Suku Tengger dan merupakan satu-satunya suku asli kawasan tersebut sejak zaman dahulu. Dalam kehidupan sehari-hari mayoritas masyarakat Suku Tengger memanfaatkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti halnya dengan bercocok tanam dan berburu hewan liar. Dalam segi ke Agama, mayoritas penduduk Tengger menganut agama Hindu. Dialek masyarakat tengger berbeda dengan masyarakat jawamataraman. Suku tengger memiliki ciri tersendiri dalam dialek menggunakan bahasa jawa kuna, mereka juga memiliki kepercayaan tersendiri, seperti percaya terhadap Danyang.
![]() |
| Prosesi Sembah Hyang masyarakat Tengger - D.S Rahardi |
Nama Tengger sendiri diambil dari nama sepasang kekasih yang saling mencintai yakni Roro Anteng dan Joko Seger. Kisah percintaan Roro Anteng dan Joko Seger sangat melegenda dimasyarakat karena begitu kuatnya rasa cinta dari sepasang kekasih tersebut. Roro Anteng dikenal sebagai wanita cantik dan berbudi luhur, sedangkan Joko Seger merupakan sosok laki-laki gagah dan tampan.
Banyak kisah menyebutkan bahwasanya Joko Seger merupakan sosok pemuda putra seorang Brahmana yang lahir di kawasan Gunung Bromo, sedangkan Roro Anteng bukanlah wanita dari kalangan orang biasa, dia berasal dari trah keturunan Majapahit yang dengan sengaja melarikan diri mencari tempat perlindungan saat Majapahit mengalami bencana alam meletusnya Gunung Penanggungan (Gugur Pawatu Gunung) sekitar abad 15 Masehi. Akibat dari letusan tersebut banyak menimbulkan korban masyarakat Majapahit, selain itu beberapa Candi banyak yang tertimbun longsoran tanah dan abu vulkanik.
Wilayah lereng Gunung Bromo yang sangat dekat dengan Gunung Semeru sengaja dipilih untuk tempat mengamankan diri seorang putri Bangsawan Majapahit, mereka meyakini bahwa tempat atau dataran yang tinggi merupakan tempat bersemayamnya para Hyang Dewata dan selalu mendapat perlindungan oleh Hyang Dewata atau dikenal dengan sebutan Ketonisme. Sedangkan Gunung Semeru sendiri dianggap sebagai Gunung Suci termuat pada (Kitab Tantu Pagelaran).
![]() |
| Gambar Ilustrasi Pasangan Joko Seger dan Roro Anteng - D.S Rahardi |
Kisah pertemuan Roro Anteng sebagai putri Bangsawan dan Joko Seger putra dari Brahmana sering terjadi saat melaksanakan Uphacara persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Mereka berdua saling memadu kasih, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Pasangan pernikahan Roro Anteng dan Joko Seger hidup sebagai peternak dan petani di kawasan lereng Bromo. Mereka memiliki banyak ternak dan hasil panen yang melimpah. Namun, kekayaan belum bisa membuat mereka berdua merasa bahagia karena dalam usia pernikahan yang lama itu sama sekali belum memiliki keturunan.
Hingga pada suatu hari, Joko Seger mengajak Roro Anteng melaksanakan Puja Semedi dalam keheningan kepada Sang Hyang Agung. Hingga dalam do'a, mereka berdua mendapat bisikan langsung dari Sang Hyang Agung bahwasanya Roro Anteng nantinya akan mengandung dan melahirkan hingga 25 anak. Namun, bisikan Sang Hyang Agung mau memberikan tapi dengan syarat, bahwa anak terakhir mereka harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Tanpa berpikir panjang Roro Anteng dan Joko Seger menyanggupi syarat dari Sang Hyang Agung.
Dengan berjalannya tahun ke tahun hasil pendapatan dari ternak serta hasil pertanian kehidupan Joko Seger dan Roro Anteng sangat bahagia dan meningkat. Apalagi diiringi banyaknya anak yang mereka sayangi, hingga suatu hari Roro Anteng mengandung anak terakhir yakni anak ke 25, anak tersebut diberi nama Kusuma. Kusuma dilahirkan dengan memiliki bakat kecerdasan dibanding saudara-saudara lainnya. Bahkan saat menginjak usia belasan tahun, Kusuma merupakan anak yang paling baik, rupawan, berbudi luhur, serta paling menonjol diantara teman-teman maupun saudara-saudara lainnya.
![]() |
| Foto saat melempar sesajian di kawah Gunung Bromo - D.S Rahardi |
Namun, kebahagian Roro Anteng dan Joko Seger itu diiringi kegundahan kala mereka teringat pada persyaratan dan janji kepada Sang Hyang Agung. Hal tersebut ditandai adanya gempa bumi dan suara gemuruh yang berlokasi di Gunung Bromo, selain itu Gunung tersebut mengeluarkan percikan api yang suatu saat bisa meluber kesekitarnya.
Ditengah situasi tersebut, munculah suara Sang Hyang Agung yang menagih janji terhadap Joko Seger dan Roro Anteng, padahal mereka berdua sangat sayang pada anak bungsunya. Roro Anteng berdo'a agar janjinya nanti dibayar dengan hewan maupun hasil ladang. Akan tetapi, Sang Hyang Agung menolak permintaan do'a tersebut. Sang Hyang Agung berkata janji tetaplah janji, dan harus ditepati.
Kusuma mengetahui bahwa dirinya diminta oleh Sang Hyang Agung untuk dikorbankan, karena dahulu ada perjanjian yang diucap orang tuanya. Mengetahui hal tersebut Kusuma mengajak 24 saudaranya serta mengajak Joko Seger dan Roro Anteng untuk melaksanakan Korban Sesaji Jalma Suci di Kawah Gunung Bromo.
![]() |
| Larung Sesaji menuju Kawah Bromo - D.S Rahardi |
Saat Kusuma menjalani Korban, Kusuma berpesan kepada saudara dan orang tuanya untuk tetap mengenang dirinya dengan melakukan pengorbanan hasil bumi setiap tahun. Pengorbanan hasil bumi tersebut harus dilakukan oleh seluruh keluarga Roro Anteng dan Joko Seger serta keturunannya. Ternyata cerita suku tengger bukan sekedar Mitologi saja, sejarah itu terpahat disebuah batu pualam setinggi 142,5 centimeter dengan panjangnya 102 centimeter, dan lebarnya 22 centimeter. Batu pualam besar itu dikenal sebagai Prasati Muncang. Prasasti tersebut ditemukan di Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dipermukaan batu tersebut terpahat tulisan dengan huruf jawa yang sangat halus. Pada permukaan batu itu terpahat cerita tentang keberadaan Suku Tengger yang saat ini menghuni lereng - lereng pegunungan Tengger, Gunung Bromo.
Masyarakat Tengger yang merupakan keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger melaksanakan pengorbanan hasil bumi tersebut, hingga saat ini pengorbanan hasil bumi tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Suku Tengger pada bulan Kasada agar terhindar dari amukan dan letusan Gunung Bromo. -D.S Rahardi
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Roro Anteng dan Joko Seger, Cerita Rakyat Suku Tengger", Klik untuk baca: https://surabaya.kompas.com/read/2023/05/23/210306278/roro-anteng-dan-joko-seger-cerita-rakyat-suku-tengger?page=all.
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/ap






Tidak ada komentar:
Posting Komentar