![]() |
| Peta Sungai Banger Kota Probolinggo |
Kota Probolinggo dahulunya dikenal dengan nama Banger, yakni nama sungai besar yang melintas di wilayah tersebut. Disebut Banger karena sungai tersebut sedikit memiliki aroma kurang sedap. Hilir Sungai Banger yang berbatasan langsung dengan pantai digunakan sebagai pusat perdagangan serta barter yang sangat ramai dikunjungi pedagang - pedagang dari negara lain. Beberapa pedagang yang berlabuh diantaranya dari negara Arab dan China. Pedagang dari negara Arab membawa dagangan Tikar, Gerabah, Ornamen Kaligrafi, Obat-obatan Arab serta sebagian mereka membawa pengaruh Islamisasi di Wilayah tepian Banger. Sedangkan dari negara China membawa dagangan Guci, Batuan Giok, Keramik, serta Obat-obatan khas China. Para pedagang dari mancanegara datang di Sungai Banger karena wilayah tersebut dikenal sebagai pusat perdagangan rempah - rempah Nusantara. Komoditi Nusantara yang dihasilkan diantaranya Teh, Kapulaga, Cengkih, kayu manis, Kopi, Serai, Secang, daun maupun biji ketumbar, dan Pala.
Dalam segi wilayah kekuasaan, Banger merupakan pedukuhan kecil dibawah pemerintahan akuwu Sukodono. Sungai Banger merupakan perbatasan antara 2 Kerajaan besar yakni Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Blambangan, akan tetapi secara keseluruhan aliran Sungai Banger masuk dalam kekuasaan Majapahit yang dipimpin Prabu Rajasanagara atau dikenal Sri Nata Hayam Wuruk (1350-1389). Perjalanan Sri Nata Hayamwuruk beserta rombongannya ke wilayah Probolinggo khususnya dipadukuhan Banger ini diperkuat oleh isi kitab Negarakertagama Pupuh 34 Baris 4 karya Mpu Prapanca yang berbunyi :
Arddalawas / nrpati tansah ananti masa, olahnireɳ sakuwukuww atikaɳ linolyan,
yyankatniran hawan i lohgaway iɳ sumandiɳ, boraɳ banör barmi tut / hnu nuny anulwan.
yang artinya : Agak lama berhenti seraya istirahat, Mengunjungi para penduduk segenap desa, Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.
![]() |
| Gambar Ilustrasi kunjungan Sri Nata Hayamwuruk di Padukuhan Banger - Probolinggo |
Pesatnya tingkat perekonomian yang bagus diwilayah Banger menjadi incaran kerajaan Blambangan. wilayah Banger menjadi tempat arena peperangan. Kerajaan Blambangan melancarkan aksi serangan merebut wilayah banger dari Majapahit pada tahun 1404, saat itu Kerajaan Blambangan dipimpin oleh Minakjinggo atau Bre Wirabhumi, dan Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Wikramawardhana. Perang tersebut yang dikenal dengan sebutan Perang Paregreg. Hingga akhirnya wilayah Banger dikuasai oleh Kerajaan Blambangan pada abad 16 Masehi. -D.S. Rahardi



Tidak ada komentar:
Posting Komentar