Translate

24 April 2025

Warisan Tradisi Nenek Moyang Petik Laut Menjadi Kearifan Lokal Tahunan Masyarakat Kalibuntu - Probolinggo

Prosesi arak arakan larung sesaji dari darat menuju laut

Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan laut utara pulau jawa, sebagian masyarakatnya bermata harian sebagai nelayan. Masyarakat pesisir yang mayoritas sebagai nelayan sebagai mata pencaharian utama tentunya memiliki tradisi dari leluhurnya yang tak bisa lepas ditinggalkan begitu saja. Tradisi tersebut dikenal dengan Petik Laut atau Larung Sesaji.

Setiap tahun masyarakat menggelar tradisi Petik Laut, yang merupakan tradisi turun temurun dari leluhur para nelayan. Prosesi Petik Laut tersebut biasa dilaksanakan di Desa Kalibuntu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tepatnya setiap bulan Syuro (Muharram) atau tepatnya tanggal 15 Suro. Para sesepuh adat dan para tokoh Desa Kalibuntu memilih dan menetapkan tanggal 15 Suro sebagai acara prosesi pelarungan sesaji karena pada saat itu semua nelayan tidak melaut dan terjadinya bulan purnama.

Petik Laut dilakukan oleh para nelayan sebagai ungkapan terima kasih atas rezeki yang mereka dapatkan dari hasil laut, seperti ikan dan hasil laut lainnya. Masyarakat nelayan Kalibuntu beranggapan bahwa hasil dari alam sekitarnya merupakan sumber daya dan kunci dari kesejahteraan hidupnya. Maka dari itu, hal ini membuat beberapa masyarakat yang tinggal di daerah pesisir memiliki tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih dikarenakan sumber daya alam yang mereka dapatkan dari laut dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat pesisir biasanya menggunakan ritual yang sudah menjadi tradisi turun - temurun sebagai ungkapan rasa syukur tersebut. Selain itu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir ini juga sebagai doa atau harapan supaya hasil tangkapan ikan berlimpah dan juga mendapatkan keselamatan. Tradisi petik laut ini merupakan penggabungan dari kearifan lokal dan agama. Dalam tradisi Petik Laut terdapat doa - doa dan pembacaan ayat suci Al Quran sebelum pada akhirnya sesaji dilarungkan ke laut.

Tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir yang dilaksanakan secara turun temurun, khususnya di wilayah pantai utara Jawa. Seiring waktu, tradisi ini juga mengalami perkembangan dan akulturasi dengan pengaruh agama dan budaya lain, seperti halnya pengaruh modernisasi serta pengaruh Islam yang terlihat dalam doa-doa, tahlil maupun pernak pernik tambahan yang dilakukan dalam prosesi Petik Laut.

Selain sebagai rasa syukur, Petik Laut juga bertujuan untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan bagi para nelayan dan masyarakat pesisir.


Masyarakat bergotong royong membawa sesaji ke arah tengah laut

Pada doa-doa yang mereka panjatkan yang sebelumnya mereka melakukan doa-doa adat dengan kepercayaan tradisional menjadi doa-doa yang mereka anut sekarang. Terdapat simbol -simbol yang digunakan dalam petik laut, simbol -simbol keagamaan yang digunakan seperti Al- Qur'an, dzikir dan doa - doa. Adapun simbol -simbo budaya seperti sesajen. Dalam penggunaannya simbol - simbol tersebut memiliki arti atau makna didalamnya yang mungkin sangat rumit untuk dipahami.

Adapun berbagai kelengkapan sajian yang ditaruh pada sesaji seperti buah-buahan, sayuran, daun janur/daun kelapa muda, kue basah, kemenyan, perhiasan emas, dan juga hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan kepala sapi.

 

Masyarakat nelayan Kalibuntu bersama - sama mengantar sesaji hingga ke tengah laut
 

Pelaksanaan petik laut ini seolah mengajak untuk mereka berdialog dengan diri mereka dan dengan nilai - nilai yang ada dalam diri mereka. pola pola dialog sesungguhnya hadir dalam ritual petik laut dimana pada saat sesaji dilarungkan ke laut, hal itu mempunyai makna simbol kepatuhan, ketundukan terhadap kuasa lain. Dalam hal ini masyarakat pesisir yang mempercayai adanya penunggu ataupun simbol simbol, eksistensi, keberadaannya yang harus dihormati. Sampai saat ini tidak bisa dipungkiri apabila masyarakat muslim yang berada di Jawa masih erat dengan latar belakang terkait dengan tradisi-tradisi dari nenek moyang merka. Seperti masyarakat Kalibuntu ini mereka beranggapan jika pelaksanaan ritual ini juga sebagai salah satu bentuk penghormatan mereka kepada nenek moyang, sekalogus sebagai bentuk dari pelestarian budaya yang memang harus mereka lestarikan.  -D.S. Rahardi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar