Translate

24 April 2025

Uphacara Karo Merupakan Hari "Lebaran" Masyarakat Suku Tengger

Setiap tanggal 15 bulan kedua atau bulan Karo dalam penanggalan kalender Saka, Suku Tengger Bromo merayakan hari raya Karo. Suku Tengger merupakan masyarakat yang hidup lereng Gunung Bromo dan Semeru. Ada empat kabupaten yang menjadi tempat tinggal masyarakat Suku Tengger, yaitu Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang, dan Lumajang. Akan tetapi, jumlah terbanyak Suku Tengger berada diwilayah Kabupaten Probolinggo.

Upacara Karo atau biasa disebut upacara adat Karo ialah upacara ritual yang merupakan lebaran bagi masyarakat Suku Tengger. Upacara ini bertujuan kembali pada kesucian, yang disebut satya yoga. Anggapan tersebut muncul bahwa pada zaman satya yoga masyarakat bersifat suci, berpegang teguh pada kebenaran, kesederhanaan, serta kejujuran.


Pada upacara Karo, masyarakat Tengger memperingati Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) yang telah menciptakan dua jenis makhluk manusia (Karo), yaitu laki-laki dan perempuan sebagai leluhurnya. Sehingga upacara Karo dikaitkan dengan leluhur masyarakat Tengger, yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger.

Upacara adat Karo dirayakan setahun sekali pada Purnama Sasih Karo, berdasarkan perhitungan tahun Saka Indonesia, dan menjadi kegiatan yang sangat bermakna bagi masyarakat desa.
 
Tahapan Uphacara Karo sebagai berikut :
  • Upacara adat Karo berlangsung selama 15 hari dengan berbagai rangkaian acara. Berikut tahapan upacara adat Karo Suku Tengger yang perlu diketahui.
  • Tari Sodoran (pembuka), tarian ini diawali dengan penari Sodor dari para sesepuh yang biasa disebut Mblara'i (mengawali) dilakukan pukul 04.00 pagi.
  • Kirab Manten Sodor (Penari Sodor).
  • Sebelum tari Sodor, dilakukan terlebih dahulu Mekakat, kemudian pembacaan Kerti Joyo (pembacaan mantra Karo dan memberi sesajen)
  • Tari Sodor dilakukan Manten Sodor (putra-putri) berjumlah 12 orang secara bergiliran, yang melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu. Tempat pelaksanaannya untuk Tengger Sabrang Kulon ditempatkan di balai desa.
Selesai melakukan prosesi dilanjutkan dengan acara berikut :
  • Santi (melakukan kirim doa kepada para Sidi Derma, selametan banyu dan gaga/tegal/ladang).
  • Dederek (saling mengunjungi ke rumah-rumah).
  • Nyadran/nelasih (nyekar ke makam).
  • Bawahan (penutupan dilakukan masing-masing desa).
Khusus kunjungan dukun adat, warga menyiapkan sesajen dan sedekah Karo di rumah masing-masing. Nantinya sesajen itu akan dibacakan mantra dan doa oleh dukun adat agar keluarga satu rumah tersebut selamat dari segala macam mara bahaya, serta diampuni dosa selama satu tahun oleh Sang Hyang Widhi Wasa. 
 
Upacara adat Karo menjadi sarana komunikasi dan interaksi sosial bagi masyarakat tengger. Upacara Karo diikuti seluruh masyarakat Tengger yang menghayati titi luri, yakni mengikuti jejak leluhur dalam meneruskan agama, kepercayaan, dan adat istiadat secara turun temurun.

Upacara Karo dilakukan masyarakat Tengger tanpa membedakan agama dan wilayah tertentu. Semua umat agama yang ada turut terlibat dan melebur dalam perayaan Karo, mulai dari persiapan hingga prosesi.


Adat istiadat dan budaya Tengger terbukti menjadi tali pengikat bagi kebersediaan warga untuk senantiasa saling memahami, menghargai, dan menerima keberagaman yang ada. Dengan ketulusan dan kesederhanaan nya, masyarakat Tengger menjalankan ibadah agama dan ritual adat mereka dengan leluasa. Agama dan adat Tengger dengan segala simbolnya hadir sebagai harmoni sosial dan persaudaraan universal. -D.S. Rahardi



Warisan Tradisi Nenek Moyang Petik Laut Menjadi Kearifan Lokal Tahunan Masyarakat Kalibuntu - Probolinggo

Prosesi arak arakan larung sesaji dari darat menuju laut

Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan laut utara pulau jawa, sebagian masyarakatnya bermata harian sebagai nelayan. Masyarakat pesisir yang mayoritas sebagai nelayan sebagai mata pencaharian utama tentunya memiliki tradisi dari leluhurnya yang tak bisa lepas ditinggalkan begitu saja. Tradisi tersebut dikenal dengan Petik Laut atau Larung Sesaji.

Setiap tahun masyarakat menggelar tradisi Petik Laut, yang merupakan tradisi turun temurun dari leluhur para nelayan. Prosesi Petik Laut tersebut biasa dilaksanakan di Desa Kalibuntu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tepatnya setiap bulan Syuro (Muharram) atau tepatnya tanggal 15 Suro. Para sesepuh adat dan para tokoh Desa Kalibuntu memilih dan menetapkan tanggal 15 Suro sebagai acara prosesi pelarungan sesaji karena pada saat itu semua nelayan tidak melaut dan terjadinya bulan purnama.

Petik Laut dilakukan oleh para nelayan sebagai ungkapan terima kasih atas rezeki yang mereka dapatkan dari hasil laut, seperti ikan dan hasil laut lainnya. Masyarakat nelayan Kalibuntu beranggapan bahwa hasil dari alam sekitarnya merupakan sumber daya dan kunci dari kesejahteraan hidupnya. Maka dari itu, hal ini membuat beberapa masyarakat yang tinggal di daerah pesisir memiliki tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih dikarenakan sumber daya alam yang mereka dapatkan dari laut dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Masyarakat pesisir biasanya menggunakan ritual yang sudah menjadi tradisi turun - temurun sebagai ungkapan rasa syukur tersebut. Selain itu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir ini juga sebagai doa atau harapan supaya hasil tangkapan ikan berlimpah dan juga mendapatkan keselamatan. Tradisi petik laut ini merupakan penggabungan dari kearifan lokal dan agama. Dalam tradisi Petik Laut terdapat doa - doa dan pembacaan ayat suci Al Quran sebelum pada akhirnya sesaji dilarungkan ke laut.

Tradisi ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir yang dilaksanakan secara turun temurun, khususnya di wilayah pantai utara Jawa. Seiring waktu, tradisi ini juga mengalami perkembangan dan akulturasi dengan pengaruh agama dan budaya lain, seperti halnya pengaruh modernisasi serta pengaruh Islam yang terlihat dalam doa-doa, tahlil maupun pernak pernik tambahan yang dilakukan dalam prosesi Petik Laut.

Selain sebagai rasa syukur, Petik Laut juga bertujuan untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan bagi para nelayan dan masyarakat pesisir.


Masyarakat bergotong royong membawa sesaji ke arah tengah laut

Pada doa-doa yang mereka panjatkan yang sebelumnya mereka melakukan doa-doa adat dengan kepercayaan tradisional menjadi doa-doa yang mereka anut sekarang. Terdapat simbol -simbol yang digunakan dalam petik laut, simbol -simbol keagamaan yang digunakan seperti Al- Qur'an, dzikir dan doa - doa. Adapun simbol -simbo budaya seperti sesajen. Dalam penggunaannya simbol - simbol tersebut memiliki arti atau makna didalamnya yang mungkin sangat rumit untuk dipahami.

Adapun berbagai kelengkapan sajian yang ditaruh pada sesaji seperti buah-buahan, sayuran, daun janur/daun kelapa muda, kue basah, kemenyan, perhiasan emas, dan juga hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan kepala sapi.

 

Masyarakat nelayan Kalibuntu bersama - sama mengantar sesaji hingga ke tengah laut
 

Pelaksanaan petik laut ini seolah mengajak untuk mereka berdialog dengan diri mereka dan dengan nilai - nilai yang ada dalam diri mereka. pola pola dialog sesungguhnya hadir dalam ritual petik laut dimana pada saat sesaji dilarungkan ke laut, hal itu mempunyai makna simbol kepatuhan, ketundukan terhadap kuasa lain. Dalam hal ini masyarakat pesisir yang mempercayai adanya penunggu ataupun simbol simbol, eksistensi, keberadaannya yang harus dihormati. Sampai saat ini tidak bisa dipungkiri apabila masyarakat muslim yang berada di Jawa masih erat dengan latar belakang terkait dengan tradisi-tradisi dari nenek moyang merka. Seperti masyarakat Kalibuntu ini mereka beranggapan jika pelaksanaan ritual ini juga sebagai salah satu bentuk penghormatan mereka kepada nenek moyang, sekalogus sebagai bentuk dari pelestarian budaya yang memang harus mereka lestarikan.  -D.S. Rahardi

 

22 April 2025

Hilir Sungai BANGER Kota Probolinggo Menjadi Pusat Perdagangan Kerajaan Majapahit Di Wilayah Timur

Peta Sungai Banger Kota Probolinggo
  

Kota Probolinggo dahulunya dikenal dengan nama Banger, yakni nama sungai besar yang melintas di wilayah tersebut. Disebut Banger karena sungai tersebut sedikit memiliki aroma kurang sedap. Hilir Sungai Banger yang berbatasan langsung dengan pantai digunakan sebagai pusat perdagangan serta barter yang sangat ramai dikunjungi pedagang - pedagang dari negara lain. Beberapa pedagang yang berlabuh diantaranya dari negara Arab dan China. Pedagang dari negara Arab membawa dagangan Tikar, Gerabah, Ornamen Kaligrafi, Obat-obatan Arab serta sebagian mereka membawa pengaruh Islamisasi di Wilayah tepian Banger. Sedangkan dari negara China membawa dagangan Guci, Batuan Giok, Keramik, serta Obat-obatan khas China. Para pedagang dari mancanegara datang di Sungai Banger karena wilayah tersebut dikenal sebagai pusat perdagangan rempah - rempah Nusantara. Komoditi Nusantara yang dihasilkan diantaranya Teh, Kapulaga, Cengkih, kayu manis, Kopi, Serai, Secang, daun maupun biji ketumbar, dan Pala.


Dalam segi wilayah kekuasaan, Banger merupakan pedukuhan kecil dibawah pemerintahan akuwu Sukodono. Sungai Banger merupakan perbatasan antara 2 Kerajaan besar yakni Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Blambangan, akan tetapi secara keseluruhan aliran Sungai Banger  masuk dalam kekuasaan Majapahit yang dipimpin Prabu Rajasanagara atau dikenal Sri Nata Hayam Wuruk (1350-1389). Perjalanan Sri Nata Hayamwuruk beserta rombongannya ke wilayah Probolinggo khususnya dipadukuhan Banger ini diperkuat oleh isi kitab Negarakertagama Pupuh 34 Baris 4 karya Mpu Prapanca yang berbunyi :

Arddalawas / nrpati tansah ananti masa, olahnireɳ sakuwukuww atikaɳ linolyan, yyankatniran hawan i lohgaway iɳ sumandiɳ, boraɳ banör barmi tut / hnu nuny anulwan.

 yang artinya : Agak lama berhenti seraya istirahat, Mengunjungi para penduduk segenap desa, Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat. 

Gambar Ilustrasi kunjungan Sri Nata Hayamwuruk di Padukuhan Banger - Probolinggo


Pesatnya tingkat perekonomian yang bagus diwilayah Banger menjadi incaran kerajaan Blambangan. wilayah Banger menjadi tempat arena peperangan. Kerajaan Blambangan melancarkan aksi serangan merebut wilayah banger dari Majapahit pada tahun 1404, saat itu Kerajaan Blambangan dipimpin oleh Minakjinggo atau Bre Wirabhumi, dan Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Wikramawardhana. Perang tersebut yang dikenal dengan sebutan Perang Paregreg. Hingga akhirnya wilayah Banger dikuasai oleh Kerajaan Blambangan pada abad 16 Masehi. -D.S. Rahardi


23 Januari 2025

Legenda Desa Rondo Kuning Kraksaan Probolinggo

 

Rondo kuning
Gambar Ilustrasi Rondo Kuning

Rondo Kuning merupakan nama salah satu Desa di Kecamatan Kraksaan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Pajarakan. Desa Rondo Kuning memiliki legenda tersembunyi, nama Rondo Kuning diambil dari sebuah legenda atau cerita rakyat yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Legenda Rondo Kuning sudah tak asing lagi bahkan sudah menggema di telinga masyarakat Kraksaan keseluruhan. Kisah Rondo Kuning ini menceritakan dua sejoli yang saling mencintai dan begitu besarnya rasa cinta serta kesetiaan hingga rasa cinta tersebut terbawa sampai mati. 

Mengisahkan bahwa dahulu saat wilayah Kraksaan menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit ada seorang Janda muda berparas cantik yang dijadikan incaran pemuda-pemuda setempat untuk dimiliki hatinya. Namun Janda muda nan cantik itu tak mempedulikan pemuda-pemuda yang mengincar hatinya, karena tak ada seorangpun yang mampu menaklukkan hatinya. Bertambah tahun dan masa semakin berlalu, usia Janda cantik tak lagi muda seperti dulu, akan tetapi untuk kecantikan Janda itu tak memudar sedikitpun meski usianya bertambah lebih tua. Dengan begitu menjadikan masyarakat khususnya para pemuda-pemuda lebih menggebu hasratnya, mengincar si Janda untuk dipinang hatinya. Masyarakat beranggapan, siapapun yang menaklukkan hati si Janda, tentulah orang hebat.

Suatu saat ada pemuda berparas tampan menjabat sebagai Tumenggung, pemuda itu belum menikah karena tak ada seorang wanita di daerahnya yang mampu memikat perhatiannya. Pemuda tersebut bertempat di wilayah lain yang masih berdekatan dengan wilayah si janda cantik itu. Suatu hari, Si pemuda mendengar berita dari bawahannya, bahwa ada janda cantik yang menduduki daerah sebelah, dan banyak warga yang mengincarnya tapi ditolak oleh janda tersebut. Pemuda itu tidak langsung percaya terhadap berita dari bawahannya, Sang Pemuda ingin membuktikan langsung apakah benar ada sosok janda cantik yang beritanya sudah beredar di masyarakat. Dengan sigap Sang pemuda menelisik langsung kebenaran si janda itu dari jauh, betapa kagetnya sang pemuda hingga Sang pemuda tertarik dengan kecantikan janda tersebut meski usia janda tersebut jauh lebih tua dari pada umurnya.

Gambar Ilustrasi saat Sang Tumenggung memadu kasih dengan putri cantik

Sang pemuda dengan berbagai macam cara mulai mendekati si janda tersebut, tak peduli meskipun usia janda lebih tua darinya. Saat pertemuan pertama itu, akhirnya Si janda juga memendam rasa cinta terhadap Sang pemuda. Melihat kegagahan sang pemuda akhirnya keduanya saling memadu kasih beritikat untuk bersama sehidup semati. Kisah percintaan janda dan pemuda membuat iri masyarakat di wilayah itu. Selang waktu berapa lama, Sang pemuda yang awalnya seorang Tumenggung akhirnya mendapat surat dari Kerajaan untuk segera mempersiapkan diri menuju kerajaan mengikuti perang melawan pemberontak.


Makam Rondo Kuning - Kraksaan Probolinggo

Sebelu berangkat berberang, Sang Pemuda berjanji bakal pulang dengan selamat, dan segera meminang si janda pujaannya. akan tetapi, nasib berkata lain, Sang pemuda gugur dalam peperangan membela Kerajaan. Mendengar kabar itu, Si Janda memendam rasa sedih, begitu sedihnya sampai Si Janda mengucap sumpah tak akan memadu kasih dengan pria lain. Hingga akhirnya si janda mati dengan memakai kebaya serta selendang kesehariannya yang berwarna kuning. Konon menurut cerita masyarakat, dahulu pohon-pohon yang berdekatan dengan makam Janda tersebut ikut layu menguning. Kisah pilu percintaan Janda tersebut berkembang di Masyarakat. Sehingga masyarakat menyebutnya Mbok Rondo atau Rondo Kuning. - D.S Rahardi
 
 
 

17 Desember 2024

Dewi Rengganis Penguasa Puncak Gunung Argopuro

Foto Ilustrasi Dewi Rengganis

Gunung Argopuro terletak membentang diantara Kab. Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Lumajang. Akan tetapi, puncak dataran luas Argopuro yang biasa disebut dataran Rengganis terletak di wilayah Kalianan, Kabupaten Probolinggo. Gunung Argopuro yang tampak mempesona menyembunyikan kisah mistis, salah satunya cerita tentang kisah Dewi Rengganis. 

Siapakah Dewi Rengganis?.. Banyak beredar cerita rakyat bahkan para sesepuh yang menyimpulkan bahwasanya Dewi Rengganis merupakan seorang putri Raja Brawijaya yang masih memiliki trah dari Kerajaan Majapahit, meskipun dari kalangan keluarga bangsawan akan tetapi keberadaannya tidak diketahui oleh keluarga kerajaan dikarenakan Dewi Rengganis merupakan keturunan dari selir Raja Brawijaya. Adapun beberapa legenda yang menyebar di masyarakat menuturkan bahwasanya Dewi Rengganis merupakan seorang putri yang tidak diakui sebagai anak dari Raja Brawijaya, pada legenda tersebut menuturkan bahwa Rengganis semasa kecil yang awalnya hidup di dalam kerajaan dibawa  oleh para prajurit kepercayaan dari Raja Brawijaya  menuju wilayah bagian timur pulau jawa, yang tentunya bertujuan mencari tempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk. Akhirnya para prajurit menemukan tempat yang disinyalir paling aman untuk Rengganis yakni di puncak Gunung Argopuro. Dalam perjalanannya, Rengganis ditemani dengan ke enam dayangnya, Rengganis diasingkan untuk misi penyelamatan, lalu Para Prajurit kepercayaan Raja Brawijaya meninggalkan Rengganis dengan ke enam dayangnya di puncak Gunung Argopuro.

Foto Danau di wilayah Gunung Argopuro

Diasingkannya Dewi Rengganis di Gunung Argopuro semata-mata guna mencari tempat yang lebih aman serta perlindungan diri disaat Islam sudah mulai berkembang di wilayah yang sebelumnya ditinggali oleh Dewi Rengganis yakni wilayah Majapahit. Gunung Argopuro sengaja dipilih karena disinyalir di wilayah Gunung tersebut dipastikan aman dan tidak ada masyarakat yang menduga bahwasanya trah Majapahit bersembunyi di daerah tersebut.

Dalam kesehariannya, Dewi Rengganis mempelajari spritual serta melatih diri bersemedi dengan seorang pertapa. Pertapa tersebut merupakan warga lokal yang melatih spiritual atau keilmuan di Gunung Argopuro. Pembelajaran spiritual Dewi rengganis dengan seorang pertapa membawa Dewi Rengganis pada titik ketenangan. Kondisi alam dan keindahan suasana Gunung Argopuro menjadikan Dewi Rengganis menjadi sosok wanita dengan pribadi yang kuat, anggun, dan penuh kasih sayang. 

Kisah Dewi Rengganis di Gunung Argopuro menjadi sorotan kebanggan bagi masyarakat khususnya Kabupaten Probolinggo hingga saat ini. Bahkan nama Dewi Rengganis diabadikan sebagai salah satu tokoh yang menguasai Puncak Gunung Argopuro.-D.S Rahardi






05 November 2024

Air Terjun Madakaripura Tempat Meditasi Mahapatih Gajahmada Dan Tempat Pujabhakti Prabu Hayamwuruk

 

Patung Gajahmada di Air Terjun Madakaripura

Air Terjun Madakaripura terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur yang memiliki pesona alam sangat memukau. Tak hanya menawarkan keindahan alam saja, air terjun Madakaripura juga punya potensi untuk dikembangkan karena menyerap banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara.


Air Terjun Madakaripura   

Menuju ke Air Terjun Madakaripura para wisatawan harus trekking terlebih dahulu, namun saat sesampainya dari dekat Air Terjun, wisatawan terpukau akan pesona yang ditawarkan sangat sepadan dengan perjuangan tersebut. Rasa lelah akan terbayar lunas sesampainya Air Terjun. Salah satu daya tarik dari Air Terjun Madakaripura adalah tingginya tebing sekitar kurang lebih 200 meter. Ketinggian ini sekaligus menjadikan Air Terjun Madakaripura maasuk sebagai salah satu Air Terjun tertinggi di Pulau Jawa dan salah satu Air Terjun tertinggi di Indonesia. Selain karena ketinggiannya, pesona alam sekitar Air Terjun Madakaripura juga tampak tebing yang mengelilinginya. Tebing memiliki bentuk melingkar tinggi menjulang sekaligus menambah kecantikan pesona alam Air Terjun Madakaripura.

Air Terjun Madakaripura

Keunikan lainnya, Air tidak hanya mengalir dari tengah Air Terjun saja, namun juga mengalir melalui celah tebing yang menyempit. Hal ini membuat suasana dibawah Air Terjun terasa seolah sedang turun hujan. Ini karena air yang menetes dari segala arah membuat sekiter area tampak seperti gerimis. Air Terjun Madakaripura tidak hanya memiliki destinasi alam yang bagus, Air Terjun Madakaripura juga memiliki nilai sejarah, karena dahulunya area sekitar Air Terjun Madakaripura pernah dijadikan tempat untuk meditasinya Mahapatih dari Majapahit, yaitu Gajahmada. Hal inilah yang menjadikan awal mula nama Madakaripura. Nama Madakaripura diambil dari bahasa Sanskerta yakni Mada, Kari, dan Pura. Mada yang diambil dari nama Gajahmada, Kari yang berarti tinggal, dan Pura yang berati tempat yang disucikan. Bisa disimpulkan bahwasanya Madakaripura merupakan tempat yang dianggap suci dan digunakan untuk tempat bermeditasi.

Peta Madakaripura dan wilayah sekitarnya masa Majapahit  

Sejarah Madakaripura tak lepas dari perjalanan serta persinggahan Raja Majapahit yang bernama Prabu Hayamwuruk saat mengelilingi Jawa bagian timur. Setiap perjalanan serta persinggahan-persinggahan Sang Raja dibukukan oleh Mpu Prapanca (sastrawan kerajaan Majapahit). Salah satu persinggahan Prabu Hayamwuruk untuk menghormati Patih Gajahmada yakni di Air terjun Madakaripura.

Keberadaan meditasi Mahapatih Gajahmada di Madakaripura tertuang pada salah satu Manuskrip  kuno masa keemasan kerajaan Majapahit, yakni kitab Negarakertagama yang ditulis langsung oleh Mpu Prapanca yang berbunyi :          

'' wwanten dharmma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng langö, simanugraha bhûpati sang apatih gajamada racananyan ûttama, yekanung dinunung nareswara pasanggrahanira pinened rinûpakaandondok mahawan rikang trasungay andyus i capahan atirthasewana".  (Nag.19.2)

Yang artinya : Tersebut dukuh kebuddhaan bernama Madakaripura, keelokannya terkenal, berupa Anugerah sri Baginda kepada patihnya, Gajah Mada, teratur dengan sangat baik. Di situlah sang raja menempati pesanggrahan yang terhias dengan indah, berjalan melalui Trasungay, ia melakukan pujabhakti di petirtaan suci di Capahan. 

Dari penggalan Manuskrip Negarakertagama tersebut menjelaskan bahwa Prabu Hayam Wuruk melakukan perjalanan dan beristirahat di tempat Gajahmada dan memberi tanda tentang kepercayaan antara Majapahit kepada mahapatihnya yang bernama Gajahmada.

Pujabhakti Prabu Hayamwuruk di Madakaripura menandakan betapa pentingnya Gajahmada di Kerajaan Majapahit kala itu. Satu-satunya patih yang sangat gigih dan dipercaya. Dikala dibawah pimpinan Mahapatih Gajahmada, Majapahit telah sampai pada titik keemasan. kekuatan prajurit sangat berkembang pesat, perekonomian rakyat meningkat, bahkan penyebaran pengaruh Majapahit hingga sampai daerah Champa (Kamboja) saat ini. Semua golongan pendatang yang berdagang baik dari nagari Syam (China), Nagari Arab sangat segan ketika mendengar nama Majapahit. Begitu masyur kala itu, hingga Majapahit mampu menyatukan Nusantara. -D.S. Rahardi

30 Oktober 2024

Tradisi Kasada Gunung Bromo Bermula dari Kisah Pasangan Kekasih Roro Anteng dan Joko Seger


Gunung Bromo Probolinggo - D.S Rahardi

Gunung Bromo atau dalam prasasti sering disebut Gunung Brahma merupakan salah satu gunung di kawasan Kabupaten Probolinggo yang memiliki panorama alam sangat memukau, tak heran banyak wisatawan baik lokal maupun asing berbondong-bondong berdatangan demi menikmati kecantikan alam diwilayah lereng Gunung Bromo. Dengan banyaknya wisatawan yang berdatangan menjadikan Gunung Bromo masuk disalah satu wisata alam terbaik di Jawa Timur.

Pertanian Suku Tengger -  D.S Rahardi
 

Wilayah lereng Gunung Bromo didiami masyarakat yang mayoritas Suku Tengger dan merupakan satu-satunya suku asli kawasan tersebut sejak zaman dahulu. Dalam kehidupan sehari-hari mayoritas masyarakat Suku Tengger memanfaatkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti halnya dengan bercocok tanam dan berburu hewan liar. Dalam segi ke Agama, mayoritas penduduk Tengger menganut agama Hindu. Dialek masyarakat tengger berbeda dengan masyarakat jawamataraman. Suku tengger memiliki ciri tersendiri dalam dialek menggunakan bahasa jawa kuna, mereka juga memiliki kepercayaan tersendiri, seperti percaya terhadap Danyang.

Prosesi Sembah Hyang masyarakat Tengger - D.S Rahardi

 

Nama Tengger sendiri diambil dari nama sepasang kekasih yang saling mencintai yakni Roro Anteng dan Joko Seger. Kisah percintaan Roro Anteng dan Joko Seger sangat melegenda dimasyarakat karena begitu kuatnya rasa cinta dari sepasang kekasih tersebut. Roro Anteng dikenal sebagai wanita cantik dan berbudi luhur, sedangkan Joko Seger merupakan sosok laki-laki gagah dan tampan.

uku Tengger tak bisa dilepaskan dari Gunung Bromo. Suku Tengger merupakan penduduk mayoritas yang mendiami kawasan lereng Bromo.

Baca artikel detikjatim, "Asal-usul Suku Tengger hingga Legenda Roro Anteng-Joko Seger" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/budaya/d-5908471/asal-usul-suku-tengger-hingga-legenda-roro-anteng-joko-seger.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
uku Tengger tak bisa dilepaskan dari Gunung Bromo. Suku Tengger merupakan penduduk mayoritas yang mendiami kawasan lereng Bromo.

Baca artikel detikjatim, "Asal-usul Suku Tengger hingga Legenda Roro Anteng-Joko Seger" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/budaya/d-5908471/asal-usul-suku-tengger-hingga-legenda-roro-anteng-joko-seger.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detNama Tengger berawal cerita dari Roro Anteng dan Joko Seger

Banyak kisah menyebutkan bahwasanya Joko Seger merupakan sosok pemuda putra seorang Brahmana yang lahir di kawasan Gunung Bromo, sedangkan Roro Anteng bukanlah wanita dari kalangan orang biasa, dia berasal dari trah keturunan Majapahit yang dengan sengaja melarikan diri mencari tempat perlindungan saat Majapahit mengalami bencana alam meletusnya Gunung Penanggungan (Gugur Pawatu Gunung) sekitar abad 15 Masehi. Akibat dari letusan tersebut banyak menimbulkan korban masyarakat Majapahit, selain itu beberapa Candi banyak yang tertimbun longsoran tanah dan abu vulkanik.

Wilayah lereng Gunung Bromo yang sangat dekat dengan Gunung Semeru sengaja dipilih untuk tempat mengamankan diri seorang putri Bangsawan Majapahit, mereka meyakini bahwa tempat atau dataran yang tinggi merupakan tempat bersemayamnya para Hyang Dewata dan selalu mendapat perlindungan oleh Hyang Dewata atau dikenal dengan sebutan Ketonisme. Sedangkan Gunung Semeru sendiri dianggap sebagai Gunung Suci termuat pada (Kitab Tantu Pagelaran). 

Gambar Ilustrasi Pasangan Joko Seger dan Roro Anteng - D.S Rahardi

Kisah pertemuan Roro Anteng sebagai putri Bangsawan dan Joko Seger putra dari Brahmana sering terjadi saat melaksanakan Uphacara persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Mereka berdua saling memadu kasih, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Pasangan pernikahan Roro Anteng dan Joko Seger hidup sebagai peternak dan petani di kawasan lereng Bromo. Mereka memiliki banyak ternak dan hasil panen yang melimpah. Namun, kekayaan belum bisa membuat mereka berdua merasa bahagia karena dalam usia pernikahan yang lama itu sama sekali belum memiliki keturunan.

Hingga pada suatu hari, Joko Seger mengajak Roro Anteng melaksanakan Puja Semedi dalam keheningan kepada Sang Hyang Agung. Hingga dalam do'a, mereka berdua mendapat bisikan langsung dari Sang Hyang Agung bahwasanya Roro Anteng nantinya akan mengandung dan melahirkan hingga 25 anak. Namun, bisikan Sang Hyang Agung mau memberikan tapi dengan syarat, bahwa anak terakhir mereka harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Tanpa berpikir panjang Roro Anteng dan Joko Seger menyanggupi syarat dari Sang Hyang Agung.

Dengan berjalannya tahun ke tahun hasil pendapatan dari ternak serta hasil pertanian kehidupan Joko Seger dan Roro Anteng sangat bahagia dan meningkat. Apalagi diiringi banyaknya anak yang mereka sayangi, hingga suatu hari Roro Anteng mengandung anak terakhir yakni anak ke 25, anak tersebut diberi nama Kusuma. Kusuma dilahirkan dengan memiliki bakat kecerdasan dibanding saudara-saudara lainnya. Bahkan saat menginjak usia belasan tahun, Kusuma merupakan anak yang paling baik, rupawan, berbudi luhur, serta paling menonjol diantara teman-teman maupun saudara-saudara lainnya. 

Foto saat melempar sesajian di kawah Gunung Bromo - D.S Rahardi
 

Namun, kebahagian Roro Anteng dan Joko Seger itu diiringi kegundahan kala mereka teringat pada persyaratan dan janji kepada Sang Hyang Agung. Hal tersebut ditandai adanya gempa bumi dan suara gemuruh yang berlokasi di Gunung Bromo, selain itu Gunung tersebut mengeluarkan percikan api yang suatu saat bisa meluber kesekitarnya.

Ditengah situasi tersebut, munculah suara Sang Hyang Agung yang menagih janji terhadap Joko Seger dan Roro Anteng, padahal mereka berdua sangat sayang pada anak bungsunya. Roro Anteng berdo'a agar janjinya nanti dibayar dengan hewan maupun hasil ladang. Akan tetapi, Sang Hyang Agung menolak permintaan do'a tersebut. Sang Hyang Agung berkata janji tetaplah janji, dan harus ditepati.

Kusuma mengetahui bahwa dirinya diminta oleh Sang Hyang Agung untuk dikorbankan, karena dahulu ada perjanjian yang diucap orang tuanya. Mengetahui hal tersebut Kusuma mengajak 24 saudaranya serta mengajak Joko Seger dan Roro Anteng untuk melaksanakan Korban Sesaji Jalma Suci di Kawah Gunung Bromo.

Larung Sesaji menuju Kawah Bromo - D.S Rahardi
 

Saat Kusuma menjalani Korban, Kusuma berpesan kepada saudara dan orang tuanya untuk tetap mengenang dirinya dengan melakukan pengorbanan hasil bumi setiap tahun. Pengorbanan hasil bumi tersebut harus dilakukan oleh seluruh keluarga Roro Anteng dan Joko Seger serta keturunannya. Ternyata cerita suku tengger bukan sekedar Mitologi saja, sejarah itu terpahat disebuah batu pualam setinggi 142,5 centimeter dengan panjangnya 102 centimeter, dan lebarnya 22 centimeter. Batu pualam besar itu dikenal sebagai Prasati Muncang. Prasasti tersebut ditemukan di Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Dipermukaan batu tersebut terpahat tulisan dengan huruf jawa yang sangat halus. Pada permukaan batu itu terpahat cerita tentang keberadaan Suku Tengger yang saat ini menghuni lereng - lereng pegunungan Tengger, Gunung Bromo.

Masyarakat Tengger yang merupakan keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger melaksanakan pengorbanan hasil bumi tersebut, hingga saat ini pengorbanan hasil bumi tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Suku Tengger pada bulan Kasada agar terhindar dari amukan dan letusan Gunung Bromo. -D.S Rahardi

Namun kekayaan ternyata belum bisa membuat mereka bahagia karena Roro Anteng dan Joko Seger belum memiliki keturunan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Roro Anteng dan Joko Seger, Cerita Rakyat Suku Tengger", Klik untuk baca: https://surabaya.kompas.com/read/2023/05/23/210306278/roro-anteng-dan-joko-seger-cerita-rakyat-suku-tengger?page=all.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/ap